'Abdullah ibnu Shodiq

Semangat Belajar Islam, Hidup dengan Ilmu dan 'Amal

Adat yang salah dalam Kehamilan dan Kelahiran

APAKAH ACARA : 3 BULANAN (TELONAN), 7 BULANAN (MITONI), DAN TINGKEPAN, DALAM MASA KEHAMILAN MERUPAKAN BAGIAN DARI AJARAN ISLAM??

Kita tidak akan menemukan acara-acara tersebut dalam ajaran Islam, bahkan hal tersebut berasal dari agama lain. Seorang mantan Pandita Hindu ditanya :
[Sebelum masuk Islam beliau bernama Pandita Budi Winarno, setelah masuk Islam bernama Abdul Aziz]
Pertanyaan : Apakah Telonan, Mitoni dan Tingkepan dari ajaran Islam ?
[Telonan : Upacara 3 bulan masa kehamilan, Mitoni dan Tingkepan : Upacara 7 Bulan masa kehamilan; biasanya dengan mandi-mandi]

Jawab : Telonan, Mitoni dan Tingkepan yang sering kita jumpai di tengah-tengah masyarakat adalah tradisi masyarakat Hindu. Upacara ini dilakukan dalam rangka memohon keselamatan anak yang ada di dalam rahim (kandungan). Upacara ini biasa disebut Garba Wedana [garba : perut, Wedana : sedang mengandung]. Selama bayi dalam kandungan dibuatkan tumpeng selamatan Telonan, Mitoni, Tingkepan [terdapat dalam Kitab Upadesa hal. 46]

Intisari dari sesajinya adalah :

1. Pengambean, yaitu upacara pemanggilan atman (urip).
2. Sambutan, yaitu upacara penyambutan atau peneguhan letak atman (urip) si jabang bayi.
3. Janganan, yaitu upacara suguhan terhadap “Empat Saudara” [sedulur papat] yang menyertai kelahiran sang bayi, yaitu : darah, air, barah, dan ari-ari. [orang Jawa menyebut : kakang kawah adi ari-ari]

Hal ini dilakukan untuk panggilan kepada semua kekuatan-kekuatan alam yang tidak kelihatan tapi mempunyai hubungan langsung pada kehidupan sang bayi dan juga pada panggilan kepada Empat Saudara yang bersama-sama ketika sang bayi dilahirkan, untuk bersama-sama diupacarai, diberi pensucian dan suguhan agar sang bayi mendapat keselamatan dan selalu dijaga oleh unsur kekuatan alam.

Sedangkan upacara terhadap ari-ari, ialah setelah ari-ari terlepas dari si bayi lalu dibersihkan dengan air yang kemudian dimasukkan ke dalam tempurung kelapa selanjutnya dimasukkan ke dalam kendil atau guci. Ke dalamnya dimasukkah tulisan “AUM” agar sang Hyang Widhi melindungi. Selain itu dimasukkan juga berbagai benda lain sebagai persembahan kepada Hyang Widhi.
Kendil kemudian ditanam di pekarangan, di kanan pintu apabila bayinya laki-laki, di kiri pintu apabila bayinya perempuan.

Kendil yang berisi ari-ari ditimbun dengan baik, dan pada malam harinya diberi lampu, selama tiga bulan. Apa yang diperbuat kepada si bayi maka diberlakukan juga kepada Empat Saudara tersebut. Kalau si bayi setelah dimandikan, maka airnya juga disiramkan kepada kendil tersebut.
(Kitab Upadesa, tentang ajaran-ajaran Agama Hindu, oleh : Tjok Rai Sudharta, MA. dan Drs. Ida Bagus Oka Punia Atmaja, cetakan kedua 2007)
Maka janganlah orang Islam menjalankan ibadah orang lain
***

Berikut kami nukil beberapa ketetapan NU berkaitan hal ini :

Pertanyaan :
Bagaimana hukumnya menanam ari-ari (masyimah) dengan menyalakan lilin dan menaburkan bunga-bunga di atasnya ?

Jawab :
Menanam ari-ari (masyimah/tembuni) hukumnya sunnah. Adapun menyalakan lilin (lampu) dan menaburkan bunga-bunga di atasnya itu hukumnya HARAM, karena membuang-buang harta (tabzir) yang tidak ada manfa’atnya.

[KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDLATUL ULAMA (NU) KE-7 Di Bandung, pada tanggal 13 Rabiul Tsani 1351 H / 9 Agustus 1932 M. Lihat halaman : 71.]
***

Pertanyaan :
Bagaimana hukumnya melempar kendi yang penuh air hingga pecah pada waktu orang-orang yang menghadiri UPACARA PERINGATAN BULAN KE TUJUH dari umur kandungan pulang dengan membaca shalawat bersama-sama, dan dengan harapan supaya mudah kelahiran anak kelak. Apakah hal tersebut hukumnya haram karena termasuk membuang-buang uang (tabzir) ?

Jawab :
Ya, perbuatan tersebut hukumnya H A R A M karena termasuk tabdzir.

[KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDLATUL ULAMA (NU) KE-5 Di Pekalongan, pada tanggal 13 Rabiul Tsani 1349 H / 7 September 1930 M. Lihat halaman : 58.]
***
Sehingga jelas bagi masyarakat kebanyakan yang mengaku sebagai warga NU bahwa hal yang sedemikian adalah TIDAK DIBENARKAN.
***
[Adakah] Cara Menguburkan Tembuni (Ari-Ari) secara Syar’i ?
Assalamuallaikum wr. wb.
Pak Ustaz,
saya mau menanyakan tata cara menguburkan “Tembuni/ari-ari” secara syar’i. Mohon perinciannya pak Ustaz, soalnya Isteri saya sebentar lagi akan melahirkan anak kami yang pertama.
Waallaikumsalam wr. wb..

jawaban
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Tidak ada aturan dalam syariah Islam tentang menguburkan ari-ari. Sedangkan kepercayaan bahwa ari-ari harus diperlakukan dengan cara tertentu, karena berpengaruh kepada bayi, hanyalah kepercayaan kosong yang tidak ada dasarnya dalam syariah.
Kala kepercayaan ini diteruskan, pelakunya bisa terjerumus ke dalam lembah syirik. Resikonya tentu sangat besar, karena orang yang mati dalam keadaaan syirik, dosa-dosa yang dibawa mati tidak akan diampuni.
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.(QS. An-Nisa’: 48)
Karena itu jangan sampai iman kita gugur hanya karena kepercayaan salah tentang ari-ari. Cukup dibuang atau dikubur dengan niat agar kalau membusuk, tidak membahayakan manusia. Sama halnya dengan mengubur bangkai, perlu dikubur bukan karena takut bangkai itu menjelma menjadi syetan, tetapi agar tidak terjadi pencemaran.
Cara yang paling aman dan mudah adalah dengan menguburnya di dalam tanah. Demikian juga ar-ari, boleh hukumnya untuk dikuburkan di dalam tanah. Tapi haram hukumnya kalau diikuti dengan beragam kepercayaan terhadap mitos-mitos tertentu tentang ari-ari.

Wallau a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.

demikian agar dapat menjadi pengingat bagi kaum Muslimin bahwa terlarang bagi mereka mengadakan suatu acara atau perbuatan yang tidak terdapat tuntunan terhadapnya di dalam agama Islam atau menyelisihi syari’at apalagi jika dengan hal tersebut akan menyelesihi pokok ajaran Islam yakni Tauhid.
Ancaman yang keras sebagaimana firman Allah dalam QS An-Nisa’ : 48 tersebut hendaknya menjadikan mereka berhati-hati dari syirik. Karena syirik kecil (riya’) akan menggugurkan (pahala) amal yang dikerjakan dengan riya’ tersebut dan dia di ancam adzab, sementara syirik besar akan membuat seseorang keluar dari Islam sehingga seluruh amal baiknya akan gugur tanpa sisa dan tiada balasan baginya kelak kecuali kekal dalam neraka dan tidak akan masuk surga. Na’udzubillahi min dzalik (kami berlindung kepada Allah terhadap perkara yang demikian).
Akan sangat disesalkan jika seseorang terjatuh ke dalam syirik tanpa dia sadari, dia melakukan perbuatan sekedar ikut-ikutan tanpa mengetahui bahwa hal tersebut adalah perkara yang dilarang.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya penglihatan, pendengaran dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya. QS al-Israa’ : 36

…dan Kami telah memberikan penglihatan, pendengaran dan hati; tetapi penglihatan, pendengaran dan hati mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan merela telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya.
QS al-Ahqaaf : 26

Pembahasan beberapa masalah di atas dinukil dari :
1. Buku “Santri Bertanya, Mantan Pendeta (Hindu) Menjawab”
2. Buku : “Masalah Keagamaan” hasil Muktamar/Munas Ulama NU ke I s/d 30 (yang terdiri dari 430 masalah) oleh KH. A. Aziz Masyhuri ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah dan Pengasuh Ponpes Al Aziziyyah Denanyar Jombang, Kata Pengantar : Menteri Agama Maftuh Basuni.
3. http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com/2010/06/apakah-3-bulanan-telonan-7-bulanan.html
4. http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com/2011/03/hukum-memberi-lampu-pada-ari-ari-bayi.html
5. http://www.ustsarwat.com/search.php?id=1157429369

[gambar diambil dari http://sund1310.rubbiku.com/wp-content/uploads/2011/04/pregnancy.jpg ]

Single Post Navigation

3 thoughts on “Adat yang salah dalam Kehamilan dan Kelahiran

  1. sok tau sampean itu,, islam ya islam jangan disamakan dengan agama lain.
    islam datang dengan memadukan budaya tapi tidak melangggar larangan Nya.
    membaca sholawat itu banyak manfaatnya, kenapa melarang.

    • Saya pribadi malah berlindung kepada Allah dari sikap sok tau. Lagian, saya ini belum tau apa-apa je, bagaimana mau sok tau? Bener mas, Islam jelas tidak sama dengan agama lain. Karenanya, jangan melakukan perbuatan yang bernilai ibadah kecuali jika hal tersebut telah diajarkan oleh Islam.
      Ibadah itu adalah segala sesuatu yang dicintai dan dridhoi oleh Allah subhanahu wa ta’ala dari perkataan dan perbuatan, yang nampak maupun yang tersembunyi (yang zahir maupun yang batin).
      doa, dzikir, tawakkal, takut, harap, itu juga ibadah mas. Ya harusnya dilakukan sesuai tatacara yang diajarkan oleh Islam, bukan mengambil ajaran agama lain.
      Adat budaya itu bisa diambil sehubungan dengan muamalah yang baik terhadap sesama, tapi tidak bisa dipakai jika menyangkut perkara ibadah. Karena Islam telah mengajarkan dengan komplit semuanya.
      Bersholawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu bukan hanya banyak manfaat namun juga dianjurkan bahkan diperintahkan oleh Allah. Bahkan terdapat celaan terhadap mereka yang tidak mau bersholawat ketika Nama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut. Dan saya tidak pernah melarang, lho. Tapi ingat, sholawat itu juga ibadah, maka kalo caranya ngawur, maksudnya jika ada yang sholawatan dengan cara atau bacaan yang tidak pernah diajrkan di dalam Islam, maka itu tidak boleh. Wallahu a’lam.

  2. kurma madu on said:

    jgan campur adukan antara yg haq dgn yg bathil.karena ISLAM tlah sempurna dan rahmat bagi skalian alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: