'Abdullah ibnu Shodiq

Semangat Belajar Islam, Hidup dengan Ilmu dan 'Amal

Nasehat Untuk Diri

Jangan terburu-buru dalam menyampaikan da’wah; seolah-olah kita katakan :

“Saya sudah berikan penjelasan tapi engga juga faham”

Ketahuilah, Memahamkan itu butuh banyak hal :

1. waktu

2. Cara

3. Adab

4. Konsekuensi

5. Komitmen

6. Sabar

1. Waktu; Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam saja berda’wah di Mekkah selama belasan tahun .. disambung di Madinah baru membuahkan hasil, kita ?

2. Cara ; Beliau shollallahu ‘alaihi wasallam menggunakan banyak cara dalam menyampaikan da’wah; semisal melalui cara yang hikmah (sesuai keadaan dan kondisi mad’u) ; beliau tidak langsung memberikan “Hard Kick” pada orang arab badui yang kencing di masjid; beliau terkadang keras terhadap kaum kafir yang memerangi Islam dan lembut terhadap kaum muslimin

‎3. Adab; Diantara hal yang harus dimiliki oleh seorang juru da’wah baik ditengah keluarga atau masyarakat adalah memiliki bekal-bekal adab; bacalah uraian syaikh Abdul Aziz Bin Baz dan Syaikh Faqihuz zaman Muhammad Bin Sholih Al-Utsaimin di Zaadud Daa’iyyah dan Akhlaqud Daa’iyyah

4. Konsekuensi ; seorang juru da’wah mesti memahami konsekuensi dari da’wah; yaitu ditolak oleh mad’unya ; maka dia mesti memahami bagaimana menyikapi mad’unya tersebut

‎5. Komitmen; seorang juru da’wah dituntut memiliki komitmen yang tinggi terhadap da’wahnya; sebab dia menjadi sorotan di mata mad’unya ..

6. Sabar; Memiliki Kesabaran tingkat tinggi merupakan hal yang harus dimiliki seorang juru da’wah; karena mungkin saja diantara mad’unya tersebut ada yang :

– sulit faham sehingga harus berulang-ulang dijelaskan

– Ngeyel dan banyak bertanya ;

– Ngotot dengan syubhatnya;

– Anti Pati terhadap da’wahnya

Terkadang;

– sang juru da’wah lekas mengambil keputusan “malas” menda’wahi lagi; padahal para Nabi dan Rasul tak kenal lelah dan letih

– sang juru da’wah lekas memvonis ; padahal para Nabi dan Rasul berulang kali menyampaikan risalah-Nya ; hari ini dia menolak; mungkin besok diterima…demikian selalu ditanamkan harapan tersebut berikut iringan doanya …

– sang juru da’wah kerap kali terburu-buru menyimpulkan sehingga bergegas meninggalkan kaumnya; ambillah ibrah dari kisah Nabi Yunus ‘Alaihis salam

– sang juru da’wah memiliki kekeliruan dalam pemahaman; sehingga meninggalkan peminum khamr; penjudi; tukang zina; dll dengan pemahaman tak boleh duduk2 dengan mereka; padahal nash tersebut untuk orang yang tak memiliki ilmu syar’i dan bukan seorang da’i; adapun jika da’i telah meninggalkan mereka; maka siapa yang akan menda’wahi mereka ?

Diantara kekurangan dari sifat para da’i adalah :

– KETUS; JUDES; tak memiliki sifat bersahabat; maka terbentuklah hijab antara dia dan mad’unya; jangankan mendekat; untuk bertanya saja sungkan; adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam seorang yang manis wajah dan tutur katanya; bersahabat; dan baik lisan dan perkataannya ..

– KAKU dalam menyikapi pertanyaan; terkadang ketika datang seseorang yang mengeluhkan keadaannya dan meminta nasehat serta bertanya kepadanya; dia mendahulukan menyalahkan si penanya tersebut; padahal pada kondisi tersebut menyalahkan sudah tak lagi bermanfaat ; mencarikan solusi jauh lebih tepat; barulah ditutup dengan peringatan agar tak mengulangnya lagi .. manusia itu peka; jika dia disalahkan terlebih dahulu sedangkan solusinya tak ada; maka dia akan mengambil sikap anti pati padanya; maka meluncurlah istilah NATO (No Action Talking Only) yang disematkan kepadanya …

– MENYALAHKAN LINGKUNGANNYA ; dia tak menyadari; LINGKUNGAN tak selamanya layak disalahkan; justru jika kehadirannya ada disana; maka DIALAH yang lebih layak dipertanyakan ? SEJAUH MANA da’wahnya di lingkungan ? saat disuatu tempat diantara kumpulan orang ‘Alim dan bodoh bergabung; lalu terjadi KESALAHAN; maka TEPATLAH yang “MEMAHAMI” jika lebih dahulu di persalahkan…

– MUDAH TERPANCING EMOSINYA ; seringkali seorang da’i mudah terpancing emosinya; padahal sudah menjadi sunnatullah jika Al-Haq selalu di KERUHI oleh Kebathilan; maka sifat inilah yang seringkali membuat terusirnya seorang da’i dimasyarakatnya; jangan samakan dengan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam yang saat itu hidup di lingkungan KUFFAR MUSYRIKIN; adapun kita hidup ditengah2 KAUM MUSLIMIN; adakah di MADINAH BELIAU MENINGGALKAN KAUMNYA ? Padahal rongrongan MUNAFIQ pada saat itupun LUARBIASA…

Oleh Abu Iram Al-Atsary

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: