'Abdullah ibnu Shodiq

Semangat Belajar Islam, Hidup dengan Ilmu dan 'Amal

Pilih Mana : Suami atau Orang Tua?

Suami atau Orang Tua?

 

Tanya :

 

Saya seorang istri, tinggal bersama suami dan empat anak. Belakangan ini, orang tua saya yang sudah lanjut usia menginginkan saya pulang untuk menemani mereka di kampung. Sementara suami tidak berkenan. Siapa yang harus saya utamakan?

 

Jawab :

 

Kehidupa rumah tangga yang bahagia dapat terwujud dengan saling memberikan dan menunaikan hak-hak masing-masing anggota keluarga. Sang istri memiliki hak yang wajib ditunaikan sang suami, demikian juga sebaliknya.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan dan menegaskan kewajiban wanita dalam menunaikan hak suami dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 

“Seandainya aku akan memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada selain Allah, tentulah aku perintahkan wanita sujud kepada suaminya. Demi (Allah) Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidaklah seorang wanita menunaikan hak Rabbnya sampai dia telah menunaikan hak suaminya. Walaupun suaminya meminta dirinya (berhubungan suami istri) di atas pelana onta, ia tidak boleh menolaknya.

[HR Ibnu Majah dalam kitab as-Sunan no. 1843. Lihat ash-Shahihah no. 1203]

 

Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Adabuz Zifaf menjelaskan tentang hadits ini dengan menyatakan : “Pengertiannya adalah anjuran kepada kaum wanita untuk menaati suaminya, ia tidak boleh menolak (ajakan suami) dalam keadaan seperti itu, lalau bagaimana dalam kondisi yang lainnya? (Tentu ia lebih patut menaati suaminya)”.

 

Ketika menjelaskan hadits diatas, penulis Tuhfatul Ahwadzi mengatakan, “Demikian itu dikarenakan banyaknya hak suami yang wajib dipenuhi oleh istri dan tidak mampunya istri untuk membalas kebaikan suaminya. Dalam hadits ini terdapat ungkapan hiperbolis [yang] menunjukkan wajibnya istri untuk menunaikan hak suaminya karena tidak diperbolehkan bersujud kepada selain Allah ‘azza wa jalla.

 

Berdasarkan hadits di atas, maka seorang istri berkewajiban mendahulukan hak suami daripada orang tuanya, jika tidak mungkin untuk menyelaraskan (menyatukan) dua hal ini.

Syaikhul Islam Ibnu  Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Seorang perempuan jika telah menikah, maka suami lebih berhak terhadap dirinya dibandingkan kedua orang tuanya dan menaati suami itu lebih wajib daripada taat [kepada] orang tua.” (Majmu Fatawa : 32/261).

 

Di halaman yang lain beliau mengatakan, “Seorang istri tidak boleh keluar dari rumah kecuali dengan izin suami meski diperintahkan oleh bapak atau ibunya, apalagi orang selain mereka berdua. Hukum ini adalah sesuatu yang telah disepakati oleh para imam. Jika suami ingin berpindah tempat tinggal dari tempat semula dan dia adalah seorang suami yang memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang suami serta menunaikan hak-hak istrinya, lalu orang tua istri melarang anaknya untuk pergi bersama suami padahal suami memerintahkannya untuk turut pindah, maka kewajiban istri adalah menaati suami, bukan menaati orang tuanya. Orang tua dalam hal ini [berada] dalam kondisi zhalim. Orang tua tidak boleh melarang anak perempuannya untuk menaati suami dalam masalah-masalah semacam ini” (Majmu Fatawa 32/263).

 

Mencermati pertanyaan saudari dalam hal ini, maka perintah dan ketaatan kepada suami lebih didahulukan dari permintaan orang tua. Namun permasalahan kepentingan orang tua yang sudah lanjut usia dengan kepentingan saudari yang berharap saudari berada di sampingnya merupaka perkara yang mungkin dikompromikan dan tidak harus dipertentangkan. Coba mengadakan komunikasi dengan suami dan orang tua untuk mencari solusinya.

 

Titik komprominya bisa dilihat kepada keadaan yang ada, di antara contohnya  :

  1. Bila oramg tua tidak memiliki anak kecuali saudari sehingga bila saudari tidak mengurusnya maka orang tua terlantar, maka diminta orang tua tinggal di rumah suami, dengan persetujuan suami tentunya.
  2. Bila orang tua memiliki anak selain saudari, bisa memintanya merawat dan mengurus orang tua dengan cara : saudari dan suami menanggung biaya kebutuhan hidupnya (saudara yang menangani orang tua). Atau solusi-solusi lain sesuai dengan kondisi dan keadaan dengan memperhatikan kemaslahatan bagi banyak pihak.

 

Perlu diketahui juga oleh sang suami bahwa kebahgiaan rumah tangganya sangat tergantung juga dengan kebahagiaan sang istri. Membantu mertua merupakan salah satu upaya membahagiakan istri dan akan berdampak positif terhadap keutuhan dan kebahagiaan rumah tangganya. Apalagi sejak pertama, akad pernikahan sudah mengikat dua keluarga besar dalam ikatan keluarga dan persaudaraan. Berbuat baik kepada mertua dan sikap sedikit banyak mengalah untuk kepentingannya yang bersifat baik dan positif merupakan satu amalan shalih yang bisa menjadi sebab kemurahan rezeki dan hidup bagi kita. Hal ini dapat ditinjau dari sisi mertua sebagai seorang muslim dan membahagiakan seorang muslim menurut syariat adalah termasuk ibadah dan amal shalih. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 

“Termasuk amalan paling utama, menciptakan kegembiraan bagi seorang Muslim; dengan cara membayarkan hutangnya, memenuhi kebutuhannya dan menyelesaikan kesulitannya (ash-Shahihah no. 2291).

 

Selain itu akan timbul efek positif dari perbuatan tersebut pada sikap istri dan keluarganya kepada suami. Disamping kebaikan-kebaikan lainnya yang muncul sebagai pengaruh positif dari perhatian suami kepada keluarga istrinya. Sikap baik suami ini terhadap istri dan keluarganya juga merupakan salah satu bentuk nyata dari ketakwaan kepada Allah dan ketakwaan kepada Allah akan menjadi sebab datangnya kemudahan bagi seluruh urusan kita dan kemudahan rezeki jua.

Allah berfirman :

 

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

(QS Ath Thalaq : 2-3)

 

Dalam ayat selanjutnya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

 

Dan barangsapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.

(QS Ath-Thalaq : 4)

 

Siapakah yang tidak mengharapkan hal ini? Oleh karena itu, hendaknya suami memberikan perhatian dan kemudaha kepada istri untuk melakukan kebaikan dan baktinya kepada kedua orang tuanya, sehingga mudah-mudahan dengan adanya kerjasama dan saling pengertian tersebut akan terbentuk astu keluarga yang penuh dengan sakinah, mawaddah dan rahmah. Semoga Allah ‘azza wa jalla memberikan kemudahan bagi saudari dalam menyelesaikan segala urusan.

Demikian jawaban kami mudah-mudahan bermanfaat.

 

Ustadz Kholid Syamhudi hafidhahullah

 

[disalin dari Majalah As-Sunnah, [without arabic] bagian Baituna bab Sakinah edisi 06/thn.xiv/dzulqa’dah1431h/oktober2010m hal. 12]

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: