'Abdullah ibnu Shodiq

Semangat Belajar Islam, Hidup dengan Ilmu dan 'Amal

LUPA, Mengapa dan Bagaimana?

Disini saya tidak mencatat tentang “Lupa” yang dikarenakan penyakit (Alzheimer) atau karena kecelakaan (Amnesia) atau karena umur lanjut (pikun), karena yang demikian telah dimaklumi. Saya sekedar menukil beberapa hal sehubungan dengan “Lupa” yang ada dalam Al Qur-aan.

  • A. Lupa terjadi karena :
  1. Kehendak Allah. Lihat QS Al-Baqarah : 186 [:”Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) LUPA kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”:]
  2. Kenikmatan hidup. Lihat QS Al-Furqan : 18 [:Mereka (yang disembah itu) menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagi kami mengambil selain engkau (untuk jadi) pelindung, akan tetapi Engkau telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan hidup, sampai mereka LUPA mengingati (Engkau); dan mereka adalah kaum yang binasa.”:]
  3. Tidak berusaha menjaga ingatan. Lihat QS Thaahaa :115 [:”Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia LUPA (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.“:]
  4. Tidak berdzikir kepada Allah. Lihat QS Al-Hasyr :19 [:”Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka LUPA kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.:”]
  5. Gangguan syaithan. Lihat QS Al-Kahfi : 63 [:…”dan tidak adalah yang meLUPAkan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan…”:]
  6.  Gangguan syaithan. Lihat QS Al-An’aam :68 [:”Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu LUPA (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).”:]
  7. Gangguan syaithan. Lihat QS Yusuf : 42 [:”Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua: “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.” Maka syaitan menjadikan dia LUPA menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya.”:]
  8. Gangguan syaithan. Lihat QS Al-Mujaadilah : 19 [:”Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka LUPA mengingat Allah…”:]

 

  • B. Yang dilakukan ketika lupa :
  1. Mengingat Allah dan berdoa. Lihat QS Al-Kahfi :24 [:”…Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu LUPA dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini.”:]
  2. Mengingat Allah dan berdoa. Lihat QS Al-Baqarah : 286 [:”…(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami LUPA atau kami tersalah….:”]

 

 

  • C. Supaya tidak mudah lupa :
  1. Berdzikir kepada Allah. Lihat bagian A nomer 4.
  2. Memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan syaithan. Lihat bagian A nomer  5,6,7,8.
  3. Berniat dalam hati untuk mengingat hal itu dan berupaya menjaga ingatan. Lihat bagian A nomer 3.
  4. Jangan Terlalu menikmati hidup. Lihat bagian A nomer 2. Hidup itu untuk ibadah, lihat QS Adz-Dzariyaat :56.
  5. Menulis sesuatu yang ingin diingat dan atau menjadikan orang lain sebagai saksi. Lihat QS Al-Baqarah : 282, sebuah ayat panjang tentang muamalah, yang di antaranya adalah [:…”supaya jika seorang LUPA maka yang seorang mengingatkannya…”:]

 

 

//

sms1

(Sms Tausiyah) disunnahkan berpuasa pd tgl 9 & 10 Muharram, insya Allah bertepatan dg tgl 23 & 24 Nopember 2012 (jumat-sabtu).
Imam Muslim meriwayatkan dlm shohihnya, dari Abu Qatadah,
“Seorang laki2 bertanya kpd Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam ttg pahala puasa hari ‘asyura. Maka Rasulullah menjawab : Aku berharap kpd Allah agar menghapus dosa2 setahun yg lalu.”
(hidup dg ilmu dan amal)

Puasa Muharram dan Shalat Malam

Afdholush shiyaami ba^da romadhoona syahrulloohil muharromu wa afdholush sholaati ba^dal fariidhoti sholaatul layli

Seutama utamanya shiyam sesudah Ramadhan adalah shiyam bulan Muharram, dan seutama-utama shalat sesudah sholat fardhu adalah sholat malam.

Muslim dlm kitab Shiyam Bab : Keutamaan Shiyam Muharram no. 1163 dari hadits Abu Hurairah.

Cara Pengucapan Yang Benar

Pertanyaan:

Bismillah. Assalamu ‘alaikum, Ustadz. Saya mau tanya perihal lafal “Amin” saat shalat berjemaah setelah imam membaca surah Al-Fatihah. Bagaimana dengan panjang-pendeknya bacaan “Amin” tersebut, karena saya mengetahui dalam kaidah bahasa Arab, lafal “Amin” itu ada 4 perbedaan. Salah satu di antaranya “Aamiin” (alif dan mim sama-sama panjang), yang artinya, “Ya Tuhan, kabulkanlah doa kami.” Apakah lafal ini yang dipakai, atau bagaimana yang diperbolehkan? Jazakallahu khairan.
Rasyid Ibnu Ali (**_math07@yahoo.***)

Jawaban:
Wa’alaikumussalam warahmatullah.

Ada beberapa kata yang mirip untuk kata “Aamiin“.

1.أَمِيْنٌ (a:pendek, min:panjang), artinya ‘orang yang amanah atau terpercaya’.

2. أٰمِنْ (a:panjang, min:pendek), artinya ‘berimanlah’ atau ‘berilah jaminan keamanan’.

Ketika shalat, kita TIDAK BOLEH membaca “Amin” dengan dua cara baca di atas.

3.آمِّيْنَ (a:panjang 5 harakat, mim:bertasydid, dan min: panjang), artinya ‘orang yang bermaksud menuju suatu tempat’.

Ada sebagian ulama yang memperbolehkan membaca “Amin” dalam shalat dengan bentuk bacaan semacam ini. Demikian keterangan Al-Wahidi. Imam An-Nawawi mengatakan, “Ini adalah pendapat yang sangat aneh. Kebanyakan ahli bahasa menganggapnya sebagai kesalahan pengucapan orang awam. Beberapa ulama mazhab kami (Mazhab Syafi’i) mengatakan, ‘Siapa saja yang membaca ‘Amin’ dengan model ini dalam shalatnya maka shalatnya batal.’” (At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur’an, hlm. 134)

4. أٰمِيْنَ (a:panjang 2 harakat karena mengikuti mad badal, min:panjang 4–6 harakat karena mengikuti mad ‘aridh lis sukun, dan nun dibaca mati), artinya ‘kabulkanlah’. Inilah bacaan “Amin” yang benar.

Allahu a’lam.
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).

http://konsultasisyariah.com/lafal-amin-yang-benar

DOA MASUK RUMAH DAN DOA KELUAR RUMAH

Bismillah

Alhamdulillah

Astaghfirullah.

Keluar rumah dan masuk ke dalamnya merupakan salah satu rutinitas harian manusia. Sebagai seorang muslim yang menyandarkan dirinya kepada agama Allah (Islam) yang dibawa oleh sebaik-baik makhluk di permukaan bumi yakni Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah selayaknya memperhatikan bagaimana agama kita ini mengajarkan hal tersebut.

Mari perhatikan sebuah hadits yang tertulis di dalam riwayat Muslim (III/1598) :

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Jika seseorang memasuki rumahnya, lalu menyebut Nama Allah Ta’ala (Bismillaah) ketika masuk dan ketika makannya, maka syaithan berkata : ‘Tidak ada tempat bermalam dan makan malam bagi kalian.’ Jika ia tidak menyebut Nama Allah ketika masuk, maka syaithan berkata : ‘Kalian menemukan tempat bermalam…”

Demikianlah, sebuah sunnah yang ringan. Kita diajarkan untuk menyebut nama Allah (Bismillaah) ketika masuk rumah dan ketika akan menyuap untuk makan dan kita akan dilindungi Allah dari syaithan. Jika kita tidak melakukannya, maka sama dengan kita mempersilahkan syaithan untuk ikut tidur di rumah kita dan ikut makan bersama kita dan jumlah mereka tidak cuma satu.

Kalaulah kita merenung, tentu kita tidakbersedia memasukkan seorang penjahat ke dalam rumah kita apalagi banyak orang jahat yang tentu kita tidak akan aman dari gangguannya. Maka bagaimana kita tidak cemas dengan masuknya syaithan ke dalam rumah kita, yang tentu mereka akan mengganggu kita, anak istri kita, bapak ibu kita, saudara saudari kita?

Sebagaimana akan terasa janggal ketika seorang bersedih akan rusaknya rumah dan tewasnya sanak keluarga sementara dia sengaja memasukkan seorang penjahat ke dalam rumahnya, pun sama anehnya ketika seorang tidak minta perlindungan dari syaithan sementara ketika terjadi kerasukan syaithan terhadap anggota keluarganya dia sedih dan bingung. Maka berdzikirlah wahai saudaraku, mulai dari hal yang ringan dan berkelanjutan, dan terus berusaha menambahnya.

Nah, di atas telah disebut mengenai doa masuk rumah. Mari kita hafal dan amalkan doa keluar rumah yang telah diajarkan oleh kecintaan kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau bersabda, “Barangsiapa ketika keluar dari rumahnya mengucapkan :

بِسْمِ الله, تَوَكَّلْتُ عَلَى الله, لاَحَوْلَ وَلاَقُوَّتَ إلاَّبِا الله

(Bismillaahi, tawakkaltu ‘ala Alloh, Laa hawla wa laa quwwata illaa billaah)

[Dengan menyebut Nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak akan ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah]

Maka dikatakan kepadanya, ‘Engkau talah dicukupi dan telah dijaga,’ dan syaithan pun menjauhinya.” (Hadits Shahih, lihat Shahiih Sunan at-Tirmidzi (III/151)

Sebaiknya doa tersebut digabungkan dengan doa dari sebuah hadits shahih yang tercantum di dalam Shahiih Sunan Abi Dawud (III/959) yakni :

اللهُمَّ إنِّي أعُوْذُ بِكَ أنْ أضِلَّ أوْ أُضَلَّ, أوْ أزِلَّ أوْ أزَلَّ, أوْ أظْلِمَ أوْ أظْلَمَ, أوْ أجْهَلَ أوْ تُجْهَلَ عَلَيَّ

(Alloohumma innii a’udzubika an adhilla aw udholla, aw azilla aw uzalla, aw azhlima aw uzhlama, aw ajhala aw tujhala ‘alayya)

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari tersesat atau disesatkan, atau tergelincir atau digelincirkan, atau menganiaya atau dianiaya, atau berbuat bodoh atau dibodohi.”

Sungguh sempurna agama kita, dengan beribadah (berdzikir atau berdoa dalam hal ini) kita mendapatkan dobel, mendapat pahala dan mendapat perlindungan.

Mari menambah amal ibadah dengan memperbanyak do’a dan dzikir di setiap aktifitas kita. Karena kita diperintah untuk itu dan dianjurkan berlomba-lomba dalam kebajikan serta tidak meremehkan kebajikan sekalipun terlihat kecil.

Marilah sejak sekarang, melakukan amal dengan ilmu yang benar, sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Wallahu ta’ala a’lam.

Abu Arini, Slamet Ariyanto ibnu Shodiq

* do’a-do’a diambil dari

  1. Adzkaarul Yaum wal Lailah, ‘Ala-uddin Yusuf al-‘Utaibi (Do’a dan Dzikir Sehari-hari Menurut Tuntunan as-Sunnah yang Shahih, Pustaka Ibnu Katsir)
  2. Kumpulan Do’a dari al Qur-aan dan as-Sunnah yang Shahih, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka Imam Asy-Syafi’i

Adat yang salah dalam Kehamilan dan Kelahiran

APAKAH ACARA : 3 BULANAN (TELONAN), 7 BULANAN (MITONI), DAN TINGKEPAN, DALAM MASA KEHAMILAN MERUPAKAN BAGIAN DARI AJARAN ISLAM??

Kita tidak akan menemukan acara-acara tersebut dalam ajaran Islam, bahkan hal tersebut berasal dari agama lain. Seorang mantan Pandita Hindu ditanya :
[Sebelum masuk Islam beliau bernama Pandita Budi Winarno, setelah masuk Islam bernama Abdul Aziz]
Pertanyaan : Apakah Telonan, Mitoni dan Tingkepan dari ajaran Islam ?
[Telonan : Upacara 3 bulan masa kehamilan, Mitoni dan Tingkepan : Upacara 7 Bulan masa kehamilan; biasanya dengan mandi-mandi]

Jawab : Telonan, Mitoni dan Tingkepan yang sering kita jumpai di tengah-tengah masyarakat adalah tradisi masyarakat Hindu. Upacara ini dilakukan dalam rangka memohon keselamatan anak yang ada di dalam rahim (kandungan). Upacara ini biasa disebut Garba Wedana [garba : perut, Wedana : sedang mengandung]. Selama bayi dalam kandungan dibuatkan tumpeng selamatan Telonan, Mitoni, Tingkepan [terdapat dalam Kitab Upadesa hal. 46]
Baca lebih lanjut…

“Riding The Time”


::diriku Kini::_::[Mengendara Waktu]::

“Mengenangkan Masa Lalu
Sebahagiannya
Menyedihkan dan Memerihkan Hatiku
Membayangkan Masa Depan
Kebanyakannya
Menakutkan dan Memberatkan diriku
Baca lebih lanjut…

Ingin Agar Istri Menerima Manhaj Salaf

Assalamu alaikum Syaikh, ana mau tanya mengenai problem rumah tangga. Ana menikah sudah 3 tahun dan dikaruniai anak laki-laki umur 1,7 tahun yang montok. Istri ana orang yang sulit untuk didakwahi/dinasehati dengan manhaj Salaf, karena istri ana orang tradisional dan keluarganya juga orang tradisional. Istri ana selalu ana nasehati untuk selalu belajar ilmu agama walau baca buku, tapi dia gak mau baca dan gak mau ikut manhaj Salaf, dia akan terus ikut kelompok tradisional, bahkan dia menganggap Salaf itu sesat.

Baca lebih lanjut…

Kitab Wudhu

Kitab Wudhu

Bab Ke-1: Apa-apa yang diwahyukan mengenai wudhu dan firman Allah, “Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (al-Maa’idah: 6)

Abu Abdillah berkata, “Nabi saw. menjelaskan bahwa kewajiban wudhu itu sekali-sekali.[1] Beliau juga berwudhu dua kali-dua kali.[2] Tiga kali-tiga kali,[3] dan tidak lebih dari tiga kali.[4] Para ahli ilmu tidak menyukai berlebihan dalam berwudhu, dan melebihi apa yang dilakukan oleh Nabi saw.”
Baca lebih lanjut…

“Menasehati Saudaramu, Perbaiki Caramu”

Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb al-‘Aqîl

Pertanyaan : Ahsanallôhu ilaykum (Semoga Alloh menjadikan Anda lebih baik), Syaikh kami –semoga Alloh Ta’âlâ menjaga Anda- Saya mengharapkan Anda sudi menjelaskan kepada kami bagaimana cara (thorîqoh) yang syar’i di dalam memberikan nasehat secara benar, terutama apabila yang dinasehati tersebut adalah seorang sunni yang bermanhaj salafi yang melakukan satu atau lebih kekeliruan?
Baca lebih lanjut…

Post Navigation

%d blogger menyukai ini: